Dedication to my mom (alm).
Assalamualaikum my super hero mommy.
Terima kasih yang teramat banyak untukmu bu'e, untuk sgala kehidupan yang terindah yang kau berikan selama hidup bahkan setelah kau tiada.
Kau slalu berusaha menjadikanku gadis hebat ditengah keterbatasan yang kita miliki. Kata orang?? Kau bilang jangan terlalu didengar kalau hanya cibiran yang mereka berikan, dan kau slamanya penguat.
Aku suka masa kecilku dengan sgala kasih sayang dan juga kemanjaanmu padaku. Semua keinginan menjadi model, penari atau apapun itu kau berusaha mewujudkannya dengan indah.
Aku masih ingat dengan betul, kau tak pernah lupa menyelipkan namaku dalam doa terbaikmu. Bahkan kau seringnya lupa berdoa untuk dirimu sendiri.
Maaf bu' , jika selama hidupmu aku bahkan belum bisa sekedar melengkungkan sebuah senyum untukmu. Maaf pula untuk sgala keegoisan yang slama ini aku lakukan padamu hingga kau harus bersusah payah dan bersusah hati karena keegoanku.
Kini dalam sepi aku masih saja merindukanmu, meneteskan airmata mengingat bahwa aku belum bisa memberikan apapun dalam hidupmu. Itu karena mungkin aku baru menyadari bahwa cinta orang tua jauh lebih berharga dibanding ribuan prestasi yang bisa aku dapatkan.
Love u mommy, i'm miss you so much. Slamanya kau tak akan terganti meski banyak orang yang akan memperlakukan aku selayaknya anak bagi mereka, tapi kau tetap ibu terbaik di hatiku yang di kirimkan Tuhan untukku.
Your little girl
Rita (ita)
Minggu, 10 Agustus 2014
Rabu, 06 Agustus 2014
Pertemuan kembali (lagi)
Nafasku terasa berat kurasakan, ketika ke empat sahabatku kembali menanyakan tentang Dane, ya aku pernah menyimpan rasa untuknya dan nencoba melupakan itu semua. Tapi pertemuan kali ini membuatku harus teringat kembali apalagi seolah para sahabatku menginginkan aku bisa mengakui perasaan yang belum semoat ku utarakan pada Dane kala itu.
"Aku baru aja putus, girls!" bisikku setengah teriak.
"Makanya itu, ini kesempatan. Kita gak mau kamu galau cuman gara-gara cowok brengsek macam Jack." ujar Grace yang di ikuti anggukan oleh yang lainnya.
"Aku cuman butuh waktu say, ngapain juga galau karna tuh cowok, ogah dah!" lagian kalian yakin banget sih Dane bisa terima aku??" ucapku penuh tanya
Sahabatku kini tak menjawab hanya menggerakkan bahu dan menggelengkan kepala. Akupun tak mau ambil pusing dengan permuntaan mereka tadi, dan menikmati coklat panas yang mulai dingin. Membahas yang lain mungkin jauh lebih baik untuk menghindari pertanyaan macam tadi .
Seminggu setelah acara reuni yang mempertemukan aku kembali pada Dane, aku serasa merindukannya. Banyak tanya yang menyelemuti apakah rasa itu muncul kembali?? Ah..entahlah apapun itu aku hanya ingin sebuah ketenangan setelah kejadian dua minggu lalu aku putus dengan Jack yang belakangan ku ketahui telah menjalin hubungan dengan yang lain bahkan disaat kami belum resmi putus.
Tepat pukul tujuh malam aku telah sampai di sebuah gedung pertunjukkan teater, sudah lama aku tak menonton pementasan teater, apalagi ini peme tasan dari komunitas teater Bunga dimana dulu aku dan beberapa teman komunitasku pernah menjalin hubungan baik diantara komunitas kami. Ngomong-ngomong dari tadi aku sendirian menunggu, dimana teman yang lain katanya jam tujuh kumpul di depan gedung dan ini sudah lebih dari lima belas menit.
Dari jauh kulihat beberapa temanku yang tadi mengajak janjian jam tujuh dan ngaret, namun mereka terlalu banyak. Ternyata mereka bersama para senior teater Bunga yang dulu seangkatan kami, sekalian nostalgia kalau gini. Ada Reno juga yang slalu aja berisik kalo ketemu dia, tapi seru sayang tampangnya pas-pasan tapi baik kok. Hhehehe
Kami langsung masuk dan menonton, ketika sedang asyik menonton ku rasakan ada orang yang duduk di sebelahku dan Reno namun tak kuhiraukan karena aku sedang fokus menonton pementasan. Kurasa Reno asyik berbincang dengan orang tadi yang membuat ke damaianku menonton jadi agak terganggu dan akupun menepuk kepala Reno sekenanya menyuruh dia diam.
Acara selesai dan lampu ruangan yang tadi hanya dihiasi lampu panggung mulai di hidupkan. Kutengok Reno dan orang yang tadi duduk disampingnya, dia tersenyum manis dan menyindir kelakuanku yang amat fokus menonton, jantungku benar-benar dibuatnya berdebar kencang. Orang itu ku kenal dengan pasti, ya dia Dane. Ku ingat kembali bagaimana dia bisa juga disini, ternyata dia dulu adalah teman kelas Reno dan teater ini adalah komunitas teater SMA mereka. "Ya Tuhan, Dane ganteng banget sih." gumamku dalam hati.
Kini aku dan teman-temanku sudah berada diluar gedung, beberapa dari mereka silih bergati pamit pulang. Tinggal aku dan Reno, aku masih menunggu kakakku karena tadi aku nebeng dia yang pergi kencan. Reno masih menemaniku sampai nanti aku di jemput, dia ingin mengantarku pulang tapi aku menolak karena rumah dia jauh sekali dari rumahku dan beda arah aku tak mau merepotkannya. Sejurus Reno menunjuk seseorang yang sedang menerima telfon di area parkir.
"Kenalkan sama tuh cowok?? Dapet salam tuh tadi, pas kamu nonton katanya manis banget bengongnya." ujarnya tertawa seraya sedikit menggoda.
"Ya iya kenal lah, tuh kan temenku waktu SD kemarin juga abis reuni bareng." ujarku merespon biasa saja.
"Aihh cakep, jodoh kali ya kalian tuh hampir mirip sifatnya tau gak??".Reno semakin membuatku tersipu namun ku tahan.
"Ya Tuhan, ada aja deh Ren. Sama dari mana coba? Aku cuman cewek biasa dan dia populer men, kamu sendiri kan yang dulu cerita-cerita gitu."belaku coba menepis dugaan Reno.
"Nah ini, sama persis. Yang satu pemain basket handal satu lagi aktris terbaik, ngakunya biasa aja. Samakan??" godaan Reno semakin menjadi dan aku cuman menghela nafas mendengar semuanya.
Dane mendekati kami yang sedari tadi asyik ngobrol, jantungku rasanya mau copot melihat langkahnya makin dekat dan Reno yang slalu mencibirku. Dane mendekat dan mengajakku pulang bareng karena rumah kami searah. Reno menyikutku memberi tanda untuk menerima tawaran, dan aku meng iyakan saja karena hari semakin malam dan kakakku tak juga muncul.
Saat Dane mengambil mobil, Reno menggodaku dan mengatakan good luck ketika aku hendak masuk mobil Dane dan itu membuatku ingin melemparnya ke gunung es, sumpah ngeselin banget. Dalam mobil kami tak banyak bicara hanya terdengar suara musik Tulus yang di putar oleh Dane. Setelah sekian lama terdiam dia membuka pembicaraan, ya hanya pembicaraan basa basi dan pertanyaan tentang acara kemarin. Ya suasana mulai cair dan kami bisa sedikit tertawa oleh lelucon garing Dane dan ingatan masa SD kamu, tak kusangka Dane masih mengingatnya bahkan dia ingat kalau dulu teman-teman sering menjodohkanku dengannya. Sungguh luar biasa, diluar dugaan dan membuatku tersipu malu.
"Rara." ucapnya singkat sesampai di depan halaman rumahku.
"Ya, ada apa Dane?" jawabku penasaran karena agak gugup karena kini dia menggenggam tanganku lembut.
"Hmmm..janji ya jangan marah?se enernya dah lama pengen ngomong ini tapi ga pas." ucapnya dengan agak gugup namun tetap terlihat cool. Aku hanya mengangguk tak banyak bicara.
"Kamu mau nggak jadi pacar aku?" pernyataannya sungguh membuatku bagai di sambar petir ini sungguh di luar dugaan. Aku salah tingkah tak bisa tenanh meresponnya. Cukup lama kami terdiam tetap pada pososi tangannya menggenggamku.
"Em...seriusan??" tanyaku mencoba meyakinkan diriku sendiri
"Banget, gimana?please jawab ya." pintanya padaku.
Setelah helaan nafas panjang aku mengangguk dan tersenyum manis tanda menerimanya. Diapun mencium tanganku kemudian memelukku penuh kehangatan. Tuhan ini sungguh indah, gumamku dalam hati.
Dan sejak malam itu kami resmi jadian, sahabat-sahabatku bahagia mendengar kabar itu apalagi Reno, yang ternyata selama ini menjadi sumber informasi untuk Dane tentangku. Reno usil knapa sih gak ngomong dari dulu kalau si Dane tuh juga naksir aku, tapi gak apa-apa bagaimanapun juga dia berarti untuk hubungan kami yang saling memendam selama ini.
Ternyata cinta gak serumit itu andai saja kita dapat saling percaya dan jujur tanpa ada dinding pembatas macam apapun. Takut ditolak itu bukan alasan tepat untuk kita takut mengutarakan isi hati, karena cinta melindungi bukan menakuti.
Kamis, 03 Juli 2014
Dulu, saat itu, kini dan nanti
Hingga
saatnya tiba, kini aku berjumpa kembali denganmu. Memang tak ada kisah special tentang
aku dan kamu di masa yang dulu tapi enta kenapa kehadiranmu kembali seolah
memberikan arti tentang akah ada kenangan indah antara kita, meski aku sendiri
tak tau apakah kenangan itu bertahan selamanya atau hanya angin lewat untuk
penambah cerita kehidupan. Sebenarnya aku agak heran kenapa aku dan kamu kini
menjadi kita, padahal dulu tak pernah ku tahu dan tak pernah ku rasa bahwa ada
cinta diantara kita. Dulu yang secara jelas meski tak nyata mengungkapkan
rasanya padaku adalah teman terdekatmu sendiri, dan mungkin kau pun masih ingat
tentang kisah ku dengannya, kisah masa kecil. Entahlah kusebut ini takdir
hidup, ya mungkin itu lebih baik kedengarannya.
Tiba-
tiba kau datang, tiba-tiba pula kau mengungkapkan rasa dalam hati. Aku ingin
berfikir panjang tentang tawaranmu itu namun kau tak memberiku cukup waktu
untuk itu, sampai akhirnya aku memutuskan mengatakan ya dan menjadikan ini cara
belajar mencintaimu. Namun tak serta merta saat aku menerimamu lantas aku
percaya padamu bahwa kau sepenuhnya serius mencintaiku. Kutunggu keseriusanmu dengan
cara kembali pulang untuk sekedar
berjumpa denganku, ya saat itu aku cukup bahagia menjadi alasan kepulanganmu
setelah hampir tiga tahun bahkan kau tak pernah pulang lagi ke kota ini. Meski
waktu kepulanganmu hanya sebentar dan pertemuan denganku pun hanya bisa di hitung
dengan lima jariku saja, namun aku rasa cukup untuk membuatmu dan membuat
diriku sendiri menyatakan kemantapan masing-masing tuk melangkah lebih jauh
lagi bersamaan.
Sampai
akhirnya kita berjalan bersama, saling melengkapi tawa dan menghapus kesedihan.
Nampak bodoh mungkin aku hanya berkomunikasi denganmu lewat pesan singkat yang
itupun tak bisa setiap detik ku dapatkan, karena waktu dan macam kegiatan yang
kita lalu sungguh berbeda. Aku hanya gadis desa dank au anak desa yang mencoba
peruntungan di kota orang dengan penuh kerja keras. Sampai terkadang kau
menghalau semua bayangan kerinduan untuk pulang bertemu dengan orang yang kau
cintai. Saat bahagia itu sungguh kunikmati dan jika ini menjadi momen manis
terakhir untuk ku bersamamu, ingin rasanya aku berkata pada Tuhan untuk
menghentikan waktu dimana akan slalu ada senyum diantara kita.
Sayangnya
kini waktu tak semanis itu, dan seolah aku terlambat berkata pada Tuhan tentang
hal itu. Kau pergi begitu saja setelah malam kejadian malam itu, dan yang
kulakukan hanya bisa memandangi semua sisa pesan singkat itu. Hari berlalu aku
masih coba menghubungimu untuk sekedar meminta maaf, tapi mungkin maaf yang ku
lontarkan sudah terlalu banyak hingga kau mulai jenuh memaafkan keegoisanku.
Tepat sekali Tuhan member uji, aku kehilanganmu disaat bersamaan aku harus
kehilangan sosok wanita hebat yang kumiliki, pejuang tangguh sejak aku masih
dalam kandungannya. Andai saja aku bisa memutar waktu kembali, andai saja aku
bisa mengubah takdirku sendiri, andai saja kini yang ku alami hanyalah mimpi.
Ya, sayang seribu sayang nasi telah menjadi bubur, jalan hidup tetap harus di
lalui entah bagaimana manis dan pahitnya. Kini aku di ajarkan Tuhan untuk
ikhlas dan pasrah untuk tak lagi menyiakan sebuah senyuman.
Senin, 07 April 2014
SEDERHANA
Gadis cantik itu
bernama Rara, dia memang bukan siapa-siapa hanya gadis kecil yang mulai tumbuh
dewasa dan mulai bergelut dengan semua impiannya. Bekerja sebagai seorang
penulis disebuah penerbit terkenal di kotanya meski dengan gaji yang tak seberapa namun
dia menikmatinya, karena baginya menulis adalah sebagian dari jiwanya yang tak
pernah bisa terpisahkan. Rara memang bukan sosok gadis sempurna namun tak
berarti tak banyak pria yang naksir padanya, sejak masih duduk dibangku sekolah
sudah banyak yang menaruh hati padanya, ada yang secara terang-terangan
mengakui dan ada pula yang hanya menyampaikannya melalui sahabat Rara. Tapi
Rara masih saja belum pernah menikmati indahnya pacaran, karena mereka semua hanya
Rara jadikan sebagai teman. Sampai
akhirnya dia bertemu kembali dengan Jack yang merupakan temannya sejak kecil
yang kebetulan satu sekolah dengannya waktu SMA, tiga tahun kelulusan mereka
tak pernah berjumpa sampai akhirnya mereka bertemu dalam sebuah event di
Jakarta, sampai akhirnya mereka berpacaran meski harus menjalani hubungan jarak
jauh.
Hampir satu
tahun menjalin hubungan mereka memang sering tanpa komunikasi karena kesibukan
masing-masing juga jarak yang memisahkan pertemuan mereka, tapi kali ini
berbeda sudah seminggu lebih Rara tanpa kabar, biasanya dia yang paling protes
jika Jack terlalu sibuk sampai melupakan komunikasi diantara mereka. Jack
merasa khawatir sesuatu buruk terjadi pada diri Rara atau bahkan hubungan
mereka, semua komunikasi yang biasa mereka gunakan semua sepi tanpa pesan dari
Rara, bahkan beberapa kali Jack menelfon tapi tak juga ada respon. Jack mulai
putus asa, namun dia teringat facebook Rara dimana biasanya Rara menulis semua
kepenatannya tapi Jack hanya menemukan update status terakhir Rara yang itupun
ditulisnya seminggu yang lalu. “Semua takdir sudah da yang menentukan.
Jika pun aku berjodoh dengannya Tuhan akan mempertemukanku kembali dengannya.”
Ada ribuan tanya dalam fikiran Jack membaca status Rara, apakah dia mulai bosan
dengan hubungan diantara mereka atau ada orang lain yang menggantikannya
disamping Rara. Jack semakin tak mengerti dengan semua ini. Tiga hari sudah
Jack mencoba mencari info tentang Rara, semua teman dan sahabatnya coba Jack
tanyai namun tak satupun dari mereka yang tahu bahkan mereka juga kesulitan
menghubungi Rara, Jack sebenarnya ingin mencari info dari saudara dan juga
kakak Rara namun Jack tak punya kontak mereka satupun. Jack semakin pasrah
dengan apa yang akan terjadi nanti, tentang hubungannya dengan Rara dan semua
mimpi mereka bersama.
Beberapa
hari ini Jack disibukkan dengan semua kekhawatirannya tentang Rara,
sampai-sampai dia tak focus dengan pekerjaannya dan juga tugas kuliahnya,
diamana slalu ada Rara yang dulu slalu memberikan semangat ketika dia mulai
jenuh dengan kegiatannya dan ingin pulang kembali ke kotanya bertemu sang
pujaan hati. Disini Jack memang tak sendiri, dimana dia juga punya banyak teman
dan sahabat yang slalu menghiburnya ketika Jack sedang murung seperti malam
ini. Teman-temannya mengajaknya untuk
sekedar jalan-jalan menikmati suasana malam di kota yang tak pernah tidur ini,
Jack pun hanya mengikuti keinginan teman-temannya lagi pula memang tak
seharusnya dia semurung ini. Sedikit kekhawatirannya tergantikan oleh tawa para
teman, meski saja slalu terbayang wajah Rara yang hingga saat ini belum juga
ada kabar.
Tepat pukul
12.00 dini hari Jack dan teman-temannya pulang kembali ke kost masing-masing,
sesampainya di kamar Jack memandangi foto Rara yang slalu tersimpan di galeri
handphone miliknya. Dibukanya laptop miliknya, mencoba membuka facebook untuk
sekedar menghibur diri seperti kata Rara bahwa facebook adalah hiburan dimana semua
hal bisa dibahas dan hal yang tak penting bisa saja menjadi penting. Sepuluh
menit berlalu dengan sedikit tersenyum karena membaca update status konyol
milik teman-temannya sampai akhirnya dia menemukan sebuah foto milik sebuah
akun yang dia kenal sebagai kakak Rara. Dalam foto tersebut nampak seorang
gadis meski tak begitu jelas sedang terbaring lemah di sebuah kamar rawat yang
penuh dengan selang infus dan semacamnya, ada sebuah keterangan di foto
tersebut “GWS mbem, kita semua sayang kamu. Nanti kalau kamu sembuh kita main
bareng kakak yang gendong kayak waktu kecil kamu mbem. Kamu bangun ya sayang.”
Hati Jack seakan teriris perih, meski samar dia tahu siapa yang terbaring lemah
dalam foto itu, dia juga paham betul panggilan mbem itu adalah Rara. Tak terasa
air mata yang berhari-hari di tahannya akhirnya runtuh malam itu juga, banyak
penyesalan yang terbesit di fikirannya. Dia yang mengakui mencintai Rara seumur
hidupnya bahkan tak tau kalau sang separuh jiwanya tengah terbaring lemah, dia
malah memikirkan hal negative tentang Rara yang sebenarnya tak pernah terbesit
difikirannya.
Malam itu juga
Jack memesan tiket pesawat pulang ke kotanya untuk secepatnya bisa sampai dan
bertemu dengan Rara, semua pekerjaan dan kuliah dia abaikan karena tak ada yang
lebih penting kini kecuali Rara. Duduk terpaku dalam kursi penumpang
membayangkan pertemuanya dengan Rara yang bisa dihitung dengan jari jemarinya,
flash back masa kecil mereka yang tak pernah terlupakan bagi Jack karena Rara
adalah cinta pertamanya. Sesampainya di kotanya, Jack menghubungi sahabat Rara
dan menjenguk Rara pagi setibanya Jack. Tanpa menunggu lama bersama para
Sahabat Rara, Jack menuju rumah sakit tempat Rara dirawat, di depan kamar rawat
hampir saja Jack tak kuat menopang berat tubuhnya bercampur kekhawatirannya
terhadap Rara. Mereka disambut oleh keluarga Rara yang berkumpul di depan
kamar, ya Jack sudah mengenal keluarga Rara sejak masih kecil namun tak sedekat
semenjak hubungan pacaran mereka. Didalam hanya ada Ayah Rara yang memang tak
akan beranjak meninggalkan puteri kecilnya meski hanya sebentar, di belainya
kepala Rara yang selama ini tertutup jilbab. Jack masuk dengan gontai, berharap
bahwa yang terbaring disana bukanlah Raranya yang sangat dia cintai, namun
inilah kenyataan yang harus diterimanya bahwa itu benar Rara kesayangannya.
Hampir jatuh air matanya namun Ayah Rara langsung mengingatkan Jack untuk tidak
menangisi Rara, karena Rara pasti akan sembuh dan kanker yang merupakan perusak
senyum Rara akan segera musnah. Jack tertegun dengan semangat Ayah Rara dan
menyeka air mata dipucuk bola matanya.
Jack meraih
tangan Rara dengan lembut, duduk disamping pembaringannya masih ditemani Ayah
Rara. Bibirnya tersenyum kaku menyapa sang kekasih yang terbujur lemah,
mendongengkan kisah kecil mereka, cinta diam mereka sampai kisah pacaran mereka
yang tak slalu mulus seperti jalan depan rumah Rara yang slalu dibanggakannya
karena tak ada lubang yang bisa menjatuhkan pengguna jalan. Masih ditemani Ayah
Rara mereka membahas kelucuan Rara yang manja sebagai anak terakhir, mereka
masih percaya bahwa Rara bukan sakit, Rara hanya tertidur karena memang
Rara adalah sleeping beauty bagi mereka
meski infuse dan alat detak jantung terpasang mereka anggap itu adalah hiasan
menemani tidur gadis kesayangan mereka, hingga mereka tak sadar meneteskan air
mata yang sedari tadi pantang mereka teteskan di hadapan Rara yang tertidup
lelap dalam mimpinya. Jack sudah tak tahan lagi berlama-lama diruangan itu, dia
berlari keluar menuju taman dekat kamar Rara. Disana dia menangis seorang diri,
menghujat segala kesibukan dan jarak diantara mereka. Menyalahkan diri sendiri
bahwa harusnya dia bisa menghabiskan waktu lebih lama untuk membuat malaikat
kecilnya tetap tersenyum. Lamunannya terhenti oleh sapaan Jane sahabat Rara,
dia mengabarkan bahwa Rara siuman. Jack dan Jane pun berlari menuju kamar Rara,
kamar Rara penuh dengan orang yang mencintainya menyambut kesadarannya dari
tidur panjangnya. Rara tersenyum melihat Jack, sempat juga bercanda melihat air
mata Jack mengejeknya sebagai lelaki cengeng. Jack tak mampu berkata hanya bisa
tersenyum menatap malaikatnya terbangun.
Berminggu-minggu
di rawat dirumah sakit akhirnya Rara diperbolehkan pulang meski dengan keadaan
yang masih lemah. Dokter hanya mengatakan kalau kini yang dibutuhkan Rara hanya
kasih saying dan kebahagiaan dan biarkalah umur menjadi rahasia Tuhan, kami tau
apa yang dimaksud dengan perkataan sang dokter tapi kami dan juga Rara punya
semangat yang tak kan tergoyahkan oleh kanker yang slama ini di derita Rara.
Tiga hari kepulangan Rara dari rumah sakit Jack kembali ke kota rantaunya
menyelesaikan study yang menjadi tujuan utama, sebenarnya berat bagi Jack
meninggalkan Rara kembali namun Rara meyakinkan Jack bahwa semua kan baik-baik
saja sampai waktunya benar-benar tiba, Jack percaya pada Rara dan berjanji
bahwa dia akan lebih peduli dengan mengabari Rara setiap hari sesibuk apapun
kegiatannya.
Setahun berlalu
Jack kembali menemui Rara, mengabarkan dua hal penting dalam hidupnya. Pertama
dia telah lulus menjadi seorang sarjana dengan nilai sangat baik dan yang ke
dua dia akan meminang Rara dalam waktu dekat. Rara bahagia terharu
mendengarnya, namun ada kesedihan bagaimana mungkin Rara menerima pinangan
lelaki yang dicintainya dalam keadaan umur yang di vonis sudah tak lama lagi,
dia takut akan meninggalkan Jack secepat itu, Jack meyakinkannya bahwa jodoh,
umur dan rejeki sudah ada yang mengatur. Jack dan Rara saling berpandangan
menyebar senyum kebahagiaan mereka, begitu pula kedua keluarga mereka yang
menyambut baik kabar bahagia itu dan akan melangsungkan pesta pernikahan
secepatnya. Kini dua tahun
sudah mereka menjalani hidup sebagai sepasang suami isteri tak lagi terpisahkan
jarak diantaranya, kehidupan mereka berjalan layaknya kehidupan rumah tangga
yang lain bahkan mereka lebih terlihat bahagia meski terbesit bayangan akan
kehilangan salah satu diantara mereka cepat ataupun lambat. Dan ternyata
waktunya telah tiba, Rara sudah tak sanggup lagi melawan penyakit yang
dideritanya, dan dengan keikhlasan semua keluarga termasuk Jack telah rela
kalau kini harus ditinggalkan oleh Rara. Rara tertidur untuk selamanya
dikelilingi oleh orang-orang yang dicintainya orang tua, kakak-kakak, saudara,
sahabat dan juga separuh jiwanya yaitu Jack. Rara pergi dengan telah
menyelesaikan tugasnya membahagiakan kedua orang tuanya yaitu melihat dirinya
menikah meski Rara tak sempat mewujudkan mimpi kedua orang tuanya untuk
menimang cucu darinya dan juga Jack.
Takdir terkadang
tak slalu indah seperti apa yang diharapkan, ada kalanya kita akan terkejut
dengan takdir yang sebelumnya tak terbayang akan terjadi terhadap diri kita. Bahagia
itu sederhana, sesederhana kita memaknai kehidupan yang kita punya,
menjalaninya dengan tanpa beban, namun terkadang terusik oleh kegelisahan yang
tak beralasan. Kalian pernah merasakan jatuh cinta? Ya tak selamanya indah
memang, namun tetap saja yang namanya jatuh cinta itu sulit dilupakan, sesakit
apapun dan sebahagia apapun bersamanya. Jatuh cinta tak pernah memandang siapa
dia, darimana dia, dan bagaimana dia, cinta hanya mengenal aku menyayanginya
dan slalu akan bersamanya, terkadang semudah itu meski prakteknya tak lebih
gampang.
Minggu, 09 Maret 2014
untukmu
Jarak kita bukan hanya masalah tempat tapi juga waktu yang terkadang membuatku gelisah menunggu setiap detik kabar yang akan kau berikan. Aku percaya dan sangat percaya dengan rasa yang kau berikan padaku, rasa yang begitu tulus dan aku yakin kau setia, tapi maaf jika aku masih saja merasa takut. Mungkin aku terlalu banyak merasa kehilangan seperti yang dulu pernah ku alami, tapi aku tentunya sadar bahwa hidup yang kujalani itu menuju kedepan bukan lagi kebelakang.
Kamu tahu aku hanyalah wanita biasa, sama seperti yang lainnya. Yang spesial dariku karena aku dicintai oleh dirimu yang juga kucintai, aku tidak sedang merayumu namun itulah yang terjadi dan kuharap akan terus kurasakan. Bersamamu selalu kuharapkan sampai akhir cerita hidupku dan juga hidupmu, bisa disebut cerita hidup kita yang kau bilang akan menjadi sebuah dongeng menarik bagi anak cucu kita nantinya.
Boleh aku meminta padamu?? bukan, aku bukan meminta apapun berupa harta. Aku hanya ingin meminta jangan pernah pergi dariku meski hanya selangkah ketika mulai kini kau sudah berhasil memiliki semua hatiku, hanya itu bisakah?? karena yang kutakutkan bukanlah miskin, tapi kehilangan orang-orang yang kucintai termasuk dirimu.
If you believe me, me always believe you. Apapun dan kapanpun asal kau masih merekatkan namaku di hatimu aku percaya. :)
Kamu tahu aku hanyalah wanita biasa, sama seperti yang lainnya. Yang spesial dariku karena aku dicintai oleh dirimu yang juga kucintai, aku tidak sedang merayumu namun itulah yang terjadi dan kuharap akan terus kurasakan. Bersamamu selalu kuharapkan sampai akhir cerita hidupku dan juga hidupmu, bisa disebut cerita hidup kita yang kau bilang akan menjadi sebuah dongeng menarik bagi anak cucu kita nantinya.
Boleh aku meminta padamu?? bukan, aku bukan meminta apapun berupa harta. Aku hanya ingin meminta jangan pernah pergi dariku meski hanya selangkah ketika mulai kini kau sudah berhasil memiliki semua hatiku, hanya itu bisakah?? karena yang kutakutkan bukanlah miskin, tapi kehilangan orang-orang yang kucintai termasuk dirimu.
If you believe me, me always believe you. Apapun dan kapanpun asal kau masih merekatkan namaku di hatimu aku percaya. :)
Jumat, 06 Desember 2013
SEPANJANG
Mentari
memang terkadang membuat iri setiapmakhluk di bumi, bagaimana diabisa terus
menerangi tanpa lelah meski harus tertutup awan hitam yang terkadang datang
tiba-tiba. Seperti halnya hidup, terkadang ada bahagia dan ada kesedihan,
tinggal bagaimana cara kita menikmati hidup karna memang takdir tlah
tertuliskan. Namaku Rara, gadis biasa seperti yang lain tak banyak istimewa
yang kumiliki. Aku memiliki rangtua yang sangat sibuk dengan pekerjaannya dan
juga ketiga kakak yang tinggal jauh dariku untukmenyelesaikan kuliah
masing-masing. Indahnya aku punya lima
sahabat yang slalu menemaniku disaat suka dan duka.
Pagi
ini seperti biasa, kudapati suasana rumah yang sepi, bisa dipastikan kalau Ayah
dan Bunda sudah berangkat sedari tadi. Sudah dari kecil aku terbiasa tinggal
sendirian dirumah, bahkan semakin aku menginjak dewasa seringkali Ayah dan
Bunda pergi tanpa pesan kepadaku. Akupun tak mau ambil pusing dan bersiap
berangkat kesekolah, setelah sarapan aku mengunci pintu rumah dan duduk ditaman
rumah menunggu kelima sahabatku untuk berangkat sekolah bersama. Aku dan kelima
sahabatku terbiasa naik angkot karena itu kami harus berangkat agak pagi karena
kami harus jalan sekitar satu kilo meter menuju tempat pangkalan angkot. Kami berjalan beriringan
dihiasi canda tawa hingga tak terasa lelah yang kami rasa. Tiba digerbang
sekolah aku berpisah dengan sahabatku, aku berlari menuju perpustakaan sekolah
untuk mengembalikan buku yang jatuh tempo hari ini karena nanti siang aku akan
ada banyak kegiatan jadi tak sempat ke perpustakaan. Tak sengaja aku menabrak
seseorang karena aku terlau terburu-buru, aku meminta maaf tapi cowok ini hanya
diam saja tanpa ekspresi apapun dan mendengar belberbunyi dia meninggalkanku
begitu saja. Tiba-tiba kepalaku terasa sakit sekali, namun kuabaikan begitu
saja. Sampai dikelas kulihat teman-temanku berlalu lalang menuju bangku
masing-masing. Aku duduk dibangkuku paling belakang, berada tepat dibelakang
Erma dan Fitri dua sahabatku yang kebetulan berada pada satu kelas dua tahun
ini. Hari ini jam pertama adalah bahasa inggris, tugas kali ini adalah
mengerjakan dipapan tulis dan menghafalkannya didepan kelas. Kini giliranku
untuk maju menghafal didepan kelas namun Miss Laili menghentikan langkahku
ketika aku hendak berdiri di depan papan tulis.
“Rara, are you
ok?” tanyanya padaku sambil mengusap pipiku dengan lembut.
“Yes, I’m fine
miss. Why?“ aku heran dan malah bertanya balik pada Miss Laili.
“Ok,
menghafallah sambil duduk,kau terlihat pucat sekali,apa kau belum
sarapan?” tanyanyakembali dan meminta
temanku yang berada didepan memberikan bangkunya untuk aku pakai.
‘ Aku baik-baik
saja kok, dan saya juga telah sarapan, kalau belum mana mungkin saya bias
menghafal secepat ini.” Candaku pada Miss Laili, suasana makin riuh dimana
banyak teman yang menawarkanku untuk istirahat di UKS namun kutolak tawaran
mereka karna aku memang baik-baik saja.
Hari ini banyak sekali tugas yang
harus kuselesaikan disekolah dan siangnya aku ada ekskul musik.
Sahabat-sahabatku telah pulang duluan, dan sore itu aku pulang sendirian. Ditengah
jalan kurasakan kepalaku kembali terasa sakit sekali, akupun mempercepat laju
jalanku.untuk sampai dirumah. Sampai dirumah aku langsung merebahkan tubuhku
diatas kasur sambil mengompres kepalaku dengan air hangat, Ternyata cukup lama
aku tertidur, tak terasa sudah maghrib, kudengar ada yag mengetuk pintu
suaranya dapat kukenali yaitu Mei, Nina, dan Himi. Kubuka pintu dan
mempersilahkan mereka masuk. Mei langsung nyerocos ngalor ngidul ngelihat aku
masih memakai pakaian seragam, kamipun langsung membekap mulutnya biar tak
semakin menjadi. Tak berselang lama Erma dan Fitri menyusul datang kerumah
membawa camilan untuk teman belajar kami. Akupun bergegas mandi dan membiarkan
teman-temanku diruang tengah, kami sudah seperti keluarga hingga terasa dirumah
sendiri ketika kami bermain dirumah masing-masing. Usai mandi tiba-tiba terasa
ada sesuatu yang keluar dari hidungku, aku shock berat ketika melihat darah
segar ditanganku. “Tuhan, apakah separah ini? Aku telah berusaha menganggap
diriku baik-baik saja tapi jika semakin menjadi begini masih kuatkah aku
mengahadapi ini semua??” gumamku dalam hati. Aku bergegas membersihkannua ketika Himi masuk
ke kamrku karma memang tak aku kunci. “Nih ada telfon dari Mbak Anggun.”
Sembari memberikan handphoneku dan
langsung meninggalkanku . Akpun ikut berkumpul dengan teman-temanku
menyelesaikan tugas kami, Himi begitu penasaran kenapa Mbak Anggun
menelfonku,karena memang jarang sekali kakak-kakakku menelfon ataupun hanya
sekedar menayakan kabar. Kujawab saja, kalau dia tak pulang bulan ini karena
ada janji dengan temannya,mungkin bulan depan. Kakaku memang jarang sekali
pulang bahkan mungkn sebulan sekali kalau sempat. Aku tak mau terlalu
membicarakan tentang keluargaku, dan sahabatku mengerti dan kamipun
menyelesaikan tugas kami.
Keesokan harinya aku tak berangkat
sekolah, banyak tanya yang bermunculan tentang keadaanku hingga
sahabat-sahabatkupun merasa khawatir dan coba menghubungiku namun tak jua dapat
jawaban. Disebuah pedesaan aku menikmati alam yang masih perawan, sungguh indah
apa yang telah Tuhan ciptakan. Kupandangi layer wallpaper hpku, disana kulihat
keceriaan yang abadi dari sahabat-sahabatku, mereka yang tak pernah
mementingkan keegoannya sendiri, kurasakan airmataku yang tak lagi bisa kubendung,
tangan tua itu berusaha menenangkanku menghapus setiap airmata yang ada.
“ Semua akan
baik-baik saja, dan kamu akan segera sembuh cantik,” Nasehatnya padaku
“Tapi nek, Rara
sudah nggak sanggup lagi nek.” Cukup lama kami terdiam.
“ Nenek janji ya
jangan kasih tau siapapun tentang hal ini termasuk Ayah Bunda, Mbak Anggun, Mas
Raya dan Mas Ilbert. Janji ya nek.”ucapku sedikit memaksa tapiinilah yang
kurasa terbaik. Nenek tak menjawab hanya memelukku erat dan menahan air
matanya.
Ternyata cukup lama aku tak berangkat sekolah,dan
hampir satu bulan tiada kabar yang kuberikan pada siapapun kecuali Miss Laili yang selalu memantau
keadaanku. Namun Miss Laili telah berjanji untuk tak menceritakan keadaanku ini
pada siapapun termasuk para sahabatku. Hari itu Miss Laili tak konsen mengajar,
apalagi setelah mendapat sebuah pesan singkat
“Dia telah tenang terlepas dari
semua sakitnya dalam senyuman indah.”. Miss Laili tak sanggup menahan
airmata sampai dia menangis didepan kelas,hingga membuat seisi kelas bingung,
masih dalam keadaan menangis Miss Laili meninggalkan kelas yang kebetulan hari
itu adalah kelasku, Erma dan Fitri tak luput dari rasa penasaran ditambah ada
rasa mengganjalyang mereka rasakan melihat fotoku di wallpaper masing-masing. Tak
berselang berapa lama semua murid satu sekolah dikumpulkan dilapangan, haru
menyelimuti wajah guru mereka apalagi Miss Laili, Pak Afton mencoba tegar
menyampaikan kabar yang terasa menyayat hati siapapun. “ Selamat pagi anak-anak
dan juga dewan guru semua, hari ini kami membawa kabar duka dari siswi kita yang
telah berjuang melawan penyakit Leukimia yang dia derita selama ini. Siswi
berprestasi membanggakan yang harus berpulang terlau cepat.” Pak Afton
menghentikan kata-katanya mencoba tak terbata-bata dan menangis, hal ini
membuat semuanya semakin bertanya-tanya siapakah siswi itu. Degan helaan nafas
panjang beliau melanjutkannya. “ Siswi itu bernama Rastaria Setia Rose atau
biasa dipanggil Rara, siswi kelas XI B”. Seketika itu Mei, Nina, Erma, Hima dan
Fitri seakan takpercaya mendengar nama itu disebut sampai-sampai Fitri harus
dibopong ke UKS karna pingsan.
Hari ini aku pulang dengan senyuman
ditemani oleh Ayah, Bunda, Mbak Anggun, Mas Ilbert dan Mas Raya dan juga Nenek
yang slalu setia. Hal ini yang slalu kuimpikan jalan beriringan dengan mereka,
namun sayang karena keadaannya telah berbeda karena aku tak bisa merasakan
kehangatannya kembali dan jauh berbeda. .Tangis mengiringi kedatanganku dalam
sebuah tidur panjang yang abadi. Mei, Nina, Erma, Hima dan Fitri tak pernah
lepas menatapku meski airmatanya terus membanjiri. Jika kalian mendengar teman, aku kini telah bahagia dalam sebuah tidur panjangku.
Jumat, 13 September 2013
ALASAN
![]() |
| Maya Maia |
Tengah malem asyik online, tuing-tuing dapat inbox dari mbak Jiah info Give
Away berhadiah novel, wuihhhh jingkrak-jingkrak diatas kasur *eh…gak juga deh*
hhehehe. Besoknya langsung ngecek info selengkapnya di blog, asyek gak susah
kok Give Awaynya cuman kasih alasan doang buat dapetin Novel. Ok hajarrr sister
tapi lanjut selesaian kerjaan kantor dulu ya.
Kerjaan udah selesai, *Alhamdulillah* lanjuttt. Jadi gini alesannya aku suka
banget baca novel, apalagi yang punya karakter cerita penuh misteri seperti
Novel Maya Maia ini yang menimbulkan ribuan
rasa penasaran pada saat baca kalimat akhir di sinopsisnya “Ini adalah
cerita soal hidup, cinta, dan kebetulan. Dan pertanyaannya: Percayakah kamu
dengan kebetulan?”.
Alesan berikutnya, Jepara masih minim toko
buku kalaupun ada gak segede dan selengkap Gramedia, kasihan ya padahal minat
baca kan perlu dikembangin tapi kalau fasilitas gak ada kan susah juga, emang
sih teknologi udah canggih tapi kan tetep yang terseru dari baca buku atau
novel adalah aroma kertasnya.
Dan terakhir ni, dulu juga pernah ikutan lomba
berhadiah novel gitu, tapi sayang novelnya gak nyampe entah nyangkut dimana
nggak tau padahal udah dapet konfirmasi pengiriman dari yang punya lomba, ya
mungkin belum rejeki ya siapa tau rejekinya ada di give away novel Maya Maia, dan semoga kalau menang nih, tuh novel
kagak nyangkut lagi hhehehe.
Sekian alesan saya kalau diterusin bisa makin panjang alesannya, malah bisa
nyampe alesan kenapa masih aja jomblo *ehh..tuh kan ngelindur lagi*. Udah
gitu aja ya mbak Annesya salam kenal, salam manis,salam menang dari Jepara Bumi
Kartini tercinta :)
Langganan:
Postingan (Atom)
