Sabtu, 20 September 2014

Apa Masih Dan Akan Selalu Untuk Aku?



                “Bagaimana bisa kamu menyembunyikan semua itu, Sam?” Mungkin itu akan slalu keluar dari pertanyaan Joni, sahabatku dari kecil. Dia tahu bahkan sebelum aku secara jujur menceritakan semua ini kepadanya, aku memang tak selamanya bisa sembunyi dan lari dari perasaanku sendiri apalagi hanya karena sebuah alasan aku tak ingin sang mawar merahku pergi menjauhiku. Aku slalu frustasi kalau harus mengingat sedalam ini aku mencintainya, namun aku tak bisa memilikinya. Bukan tak bisa, hanya saja aku yang terlalu lemah untuk itu semua, terlalu bodoh karena terpaku pada alasan bodoh yang kubuat sendiri. Oh Tuhan, kenapa aku harus selemah ini terhadap orang yang aku cintai yang secara jelas juga mencintaiku secara tulus. Masih kurangkah waktu selama 10 tahun untuk aku terus menjadi pengecut, yang slalu bersembunyi darinya dan mencari mangsa lain yang tak pernah bisa membuatku menggapai kebahagiaan murni ketika aku bersama nya.

                Semalaman aku terjaga ketika harus kembali mengingat kejadian sore itu. Dimana ketika aku dan Joni sedang asyik minum kopi di café dekat alun-alun kota, tiba-tiba Joni menunjuk seorang gadis biasa namun slalu bisa membuat hatiku berdebar entah sejak 10 tahun yang lalu. Ya, gadis itu adalah Rara, cinta pertama yang kutemukan pada masa pertama SMP. Kami begitu dekat hingga perasaan yang kumiliki untuknya tumbuh begitu saja. Sayang sekali gadis itu kini tak sendiri, sore itu dia berjalan dengan bahagianya bersama lelaki yang sangat serasi dengannya, andai saja yang sedang berjalan dan beranda disampinya adalah aku. Selama ini aku selalu menghindarinya, sejak lulus SMA aku tak pernah mengikuti acara reuni yang kebetulan sejak SMP sampai SMA kami berada pada satu kelas yang sama. Itulah bodohnya aku, sampai Joni sahabat yang paling mengerti akupun tak habis fikir dengan sikapku selama ini terhadapnya. 

                Pagi ini kuhabiskan waktu ku di toko buku milikku, yang ku bangun atas saran mama karena aku juga hobi membaca buku. Kusibukkan diriku dengan tumpukan buku yang harus aku cek keadaannya, slalu dengan cara menyibukkan diri aku bisa sedikit lupa dengan masalahku.
“Pagi Rahma, pagi Anton.” Sapaku ramah terhadap dua pegawaiku.
“Pagi mas.” Jawab mereka bersamaan disertai senyuman tulus. Ya mereka ku suruh memanggil mas, daripada aku harus dipanggil pak? Umurku tak setua itu.
“Oh iya mas, kiriman dari pernerbit sudah datang tadi. Mau di cek sekarang?” Anton membuka percakapan diantara kami
“Oke, kalian bantu saya ya.” Jawabku sembari mencari buku yang berisi catatan stok toko buku ku.
“Siap mas.” Jawab mereka semangat.
Dibantu oleh Rahma dan Anton yang sudah ku anggap sebagai adikku sendiri, aku mengecek buku satu per satu hingga tak kusadari waktu makan siang telah lewat. Kulihat Rahma dan Anton telah kembali dari istirahat makan siangnya secara bergantian, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 14.03 dan aku belum makan siang juga tadi pagi belum sempat sarapan. Setelah membereskan sebagian data,aku pamit pada Rahma dan Anton untuk keluar makan siang di café  dekat toko buku.  
“Aku keluar makan sebentar ya, ntar kalau ada apa-apa tinggal hubungi mas aja.” Pamitku pada Rahma dan Anton
“Baik mas.” Jawab Rahma, sedang Anton hanya mengangguk karena sedang melayani pembeli.
Sedang asyik makan, ada pesan dari Joni yang isinya mengajakku untuk ikut acara reuni SMA yang akan diadakan minggu ini di rumahnya. Sebenarnya aku malas untuk ikut acara itu, tapi Joni mengingatkanku bahwa aku sudah 4 kali mangkir dari reuni SMA dan 7 kali mangkir dari reuni SMA. Aku menghela nafas tak bersemangat lagi untuk makan, setelah menerima 2 pesan dari Joni, belum sama sekali aku balas 2 pesannya tadi dia mengirimkan pesan baru yang membuatku antara senang atau sedih. Isi pesannya memaksaku datang karena Rara tak akan menghadiri acara reuni kali ini karena harus terbang ke Jakarta ada acara keluarga, jadi tak ada alasan lagi untuk aku menghindari acara ini karena satu alasan terkuat adalah aku menghindari Rara. Dengan terpaksa aku me-reply pesan Joni dan menyetujui undangannya, itu artinya aku akan datang pada acara reuni tahun ini.
“Ya kita lihat aja nanti, semoga mood ku sedang bagus untuk hadir.” Gumamku tak jelas.

                Minggu jam setengah Sembilan pagi aku sampai dirumah Joni, belum banyak yang datang karena memang acaranya akan dimulai masih setengah jam lagi. Banyak wajah yang tak kukenali karena sudah lama tak bertemu, mungkin yang ku ingat adalah Joni, Romi, Boim, dan Rico yang merupakan teman sekampusku dulu. Setengah jam kemudian rumah Joni telah ramai, ada yang membawa serta pacar, isteri bahkan anak mungkin hanya beberapa yang datang sendiri. Aku tertawa geli mengingat bagaimana mereka sewaktu masih di bangku sekolah, tapi kini naluri ayah serta ibu telah melekat sempurna di wajah mereka. Acara reuni kelasku memang tak heboh hanya di isi oleh makan-makan dan juga ngobrol bareng meski sering kali malah ada yang curhat dan gossip. Kini aku berada di ruang tengah rumah Joni bersama Ayu, Lala, Romi, Boim, dan Rico teman sebangku ku dari kelas X sampai XII.
“Jadi pada sibuk ngapain sekarang?” tanya Lala membuka pembicaraan
“Aku sih lagi sibuk nerusin S2, La. Pengen cepet lulus, kerja terus nikah gitu.” Jawaban Romi membuat kami tertawa, sang jenius sudah mulai mikir pernikahan ternyata.
“Kalau aku bantuin mama di bisnis salonnya, lumayankan bisa jadi penerus keluarga.” Ya Ayu adalah anak pemilik salon terkenal di kota kami, bakatnya terlihat sejak SMA dimana dia sering mendandani teman-temannya saat acara kartini atau pemilihan miss sekolah.
“Boim lagi sibuk persiapan pernikahan, nanti kalian semua harus dating ya bawa pasangan masing-masing.” Boim memberikan jawabannya, sungguh di luar dugaan Boim yang slalu dihindari cewek-cewek untuk diajak pacaran karena gendut tapi slalu slalu baik kok jadi temen malah mau nikah, kalah dah ni cowok ganteng gumamku dalam hati.”
“Kalau aku ngurusin toko buku ku, lumayanlah walaupun masih kecil. Kan sayang juga punya hobi baca gak di tularin.” Kini giliranku memberi jawaban.
“Wah enak tuh, ntar kalau gue mau hunting buku ke toko buku kamu aja ya Sam. Kali aja dapat gratisan.” Jawab Lala yang disetujui oleh teman lain.
“Ya enak ya yang masih jomblo, kesono kemari terbang sana terbang sini. Tapi enakan juga punya isteri anak deh bisa tau jelas semangat kerja aku untuk siapa.” Jawaban Rico membuat kami semua tertawa dan di hadiahi timpukan kacang telur karena mengatakan kami jomblo.
Sedang asyik mengobrol kudengar ada suara riuh heboh dari arah teras dimana sebagian juga ngobrol disana, sepertinya ada yang baru datang dan mendapat sambutan heboh seperti ini, entahlah siapa dia. Ayu dan Lala yang kepo abis memilih meninggalkan kami menuju teras depan.
“Apaan sih rame banget di depan?” ujar Ayu penasaran.
“Nggak tau tuh, lihat dulu ah. Kepo nih.” Lala langsung berlari menuju teras.
“Ikutan La.” Ayu berlari mengejar Lala.

Tak berapa lama Lala kembali dengan menggandeng cewek cantik berambut panjang memakai dress hitam selutut yang tersenyum sungguh manis diikuti oleh semua anak lain yang masih bercanda dan bersorak ria dibelakang mereka. Aku menatap terkejut gadis itu, aku kenal sekali pemilik senyum yang sangat mempesona dan manis yang kini duduk tepat didepan tempat aku duduk sedari tadi.
“Wuidihh.. apa kabar miss selebritis?” sapa Rico yang duduk disampingku
“Makin cakep aja neng, ntar kalau S2 lulus aku lama raja deh ya Ra.” Respon Romi membuat semua tercengang dan menertawakannya sedang Boim menatapnya takjub sembari berguman tak jelas. Sedangkan aku hanya diam menatap, ya dia semakin cantik dan semua orang tahu dia adalah seorang penulis muda yang cukup terkenal.

Kutoleh wajah Joni dengan penuh pertanyaan dan pergi menuju taman dibelakang rumah Joni. Kurasa aku benar-benar belum siap bertemu dengannya, sekuat apapun aku mencoba aku akan slalu jatuh tersungkur oleh alasan tolol yangkubuat sendiri. Sebetulnya apa maksud Joni membohongi bahwa gadis itu tak akan ikut acara kali ini, tapi nyatanya dia malah muncul begitu saja dengan sambutan meriah, sedang semasa sekolah mungkin hanya akan ada aku yang terang-terangan menyambut serta menggodanya dengan penuh kejahilanku yang di bumbui rasa sayang terhadapnya. Aku benar-benar frustasi dengan semua ini, kuputuskan untuk pamit pulang karena aku tak akan pernah bisa berlama-lama memandangi gadis itu atau yang paling buruk aku akan mengacaukan acara ini karena tak bisa mengontrol ketakutanku. Baru saja hendak berbalik dan melangkahkan kaki menuju ruang tengah tiba- tiba ada tubuh langsing yang memelukku dari belakang, aku terkaget siapa yang berani memelukku seperti ini apalagi di acara reuni macam ini. Kuhela nafas panjang mencoba berbalik badan dan melepaskan pelukan entah siapa ini, namun pelukan itu semakin erat dan terasa ada air hanta yang membasahi punggung bajuku, dia menangis? Tanyaku dalam hati. Kutanya siapakah dia, namun tak juga ada jawaban dan hanya ada suara sesenggukan yang membuatku semakin gila apalagi setelah melihat gadis pemilik senyum manis itu beberapa menit yang lalu kenapa harus ditambah lagi dengan keadaan seperti ini, siapa gadis yang menangis ini.

                Dengan sedikit kasar kulepas pelukan itu dan menolehnya kebelakangan, betapa terkejutnya aku. Gadis yang memelukku adalah Rara, sang pemilik senyum manis itu. Bagaimana mungkin dan kenapa dia melakukan ini, serta kenapa dia harus menangis apa ada yang menyakitinya?. Tapi siapa yang berani menyakiti dan membuatnya menangis seperti ini. Ku raih tangannya, menanyakan apa dia baik-baik saja. Namun hanya dibalas sebuah anggukan pelan, matanya begitu lekat menatapku seolah menyuruhku untuk mengatakan sesuatu yang tlah lama dia nantikan. Aku membawanya duduk dibangku taman tak jauh dari tempat kami berdiri tadi, mencoba menenangkannya yang sedari tadi masih saja menangis. Aku ingat pertama bahkan terakhir aku memeluknya dalam tangis yaitu ketika perpisahan SMA, dimana dia menangis entah untuk takut berpisah denganku atau lebih dari ketakutan itu dan kini dia kembali menangis dalam pelukanku.
“Hai kenapa?” tanyaku pada Rara yang masih sesenggukan dari tadi
Hening, tak ada jawaban.
“Ra…?”
“Kamu masih mau jauhin aku Sam? Emang salah aku apa sih sama kamu?” kini tangisnya semakin pecah, tatapannya semakin membuatku merasa sangat tertusuk.
“Kenapa ngomongnya gitu, Ra? Kamu gak punya salah apa-apa kok.” Aku mencoba menenangkannya.
“Tapi kenapa selama ini kamu selalu menghindari aku Sam? Aku tahu bahkan semua teman juga tahu dengan pasti alasan kenapa kamu selalu gak mau ikutan acar reuni, untuk semua karena kamu gak mau ketemu aku kan?” Rara tertunduk dengan ucapannya, sedangkan aku seolah telah menjelma menjadi seorang pembunuh yang melukai gadis yang sangat ku cintai dalam hati.
“Udah Sam, dah waktunya kamu jujur sama semuanya sebelum waktu bener-bener tertutup buat kamu. Gak selamanya kamu bisa lari sekenceng itu untuk menghindari apa yang sebenernya malah kamu butuhkan.” Joni datang mengagetkanku dan Rara, ditemani oleh Lala yang berdiri disamping Joni member anggukan setuju. Rara kini tak lagi menunduk, menatapku penuh tanya dan harapan.
“Good luck ya.” Ujar Lala, bersama Joni langsung meninggalkan aku dan Rara berdua. Ku angkat wajahnya, kutatap lembut tepat di matanya.
“Ra, tapi kamu janji ya gak bakalan marah kalau aku ngomongin ini ke kamu. Kamu bakalan janji tetap gak akan benci sama aku.” Rara hanya mengangguk pelan dan mantap.
“Ra, sebenernya aku itu suka sama kamu, bahkan aku jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali kita ketemu waktu penerimaan siswa baru di SMP. Kamu inget kan waktu pertama kita ketemu waktu itu kita satu kelas, dan kita sering banget di hukum bareng dan dikerjain kakak kelas.” Aku tersenyum tipis mengingat hal itu masih dengan memandangi wajah Rara yang tak berubah meski aku udah ngomong yang sejujurnya sama dia. Namun tiba-tiba dia melepaskan tanganku yang memegangi wajahnya, itu membuatku sedikit panik jangan sampai dia marah dan benci sama aku.
“Kenapa gak jujur sama aku, Sam?” suaranya pelan menahan tangis.
“Maaf Ra, aku sendiri masih sangat bingung. Aku gak mau di benci sama kamu dengan bilang jujur tentang perasaan aku, meski aku tahu sikap aku kayak gini malah bikin kamu benci sama aku.”
“Apa rasa itu masih dan akan slalu aku?” tanya Rara yang membuatku terlonjak kaget.
“Maksud kamu Ra?” aku masih saja tak mengerti apa yang Rara maksud.
“Apa kamu masih mau memberikan rasa itu sama aku dan berjuang demi mendapatkan rasa itu?”
Aku menghela nafas sesak dalam hatiku, apa aku masih bisa. “Entah Ra, aku rasa terlalu capek sepuluh tahun berjuang sendirian kayak gini. Tapi untuk nyerah juga gak semudah itu, lihat kan sampai sekarang aku masih saja terus menyimpannya untukmu.” Aku merasa tak sanggup lagi harus membicarakan hal ini dengan Rara, aku memutuskan berdiri dan melangkah namun kembali tanganku diraihnya dengan cepat.
Kenapa gak ngajak aku untuk berjuang? Kita berjuang sama-sama mungkin dari awal.” Sam menoleh cepat mendengar perkataan Rara, yang seolah bagai hujan ditengah kemarau.
“Kamu serius Ra?” aku masih tak percaya dan Rara hanya memberi respon anggukan mantap juga senyuman manis miliknya. Ya Tuhan terimakasih, ucapku dalam hati. Kuraih tangannya mencium buku-buku tangannya dengan lembut sambil berjongkok di hadapannya bak sebuah dongeng.

                Dari arah dalam rumah kudengar riuh kebahagiaan dari semua teman-teman ku, ternyata dari tadi mereka menguping pembicaraanku dengan Rara. Dan juga ini semua adalah ide Joni yang di modifikasi oleh Lala agar terlihat natural, ditambah teman-teman yang lain sungguh sempurna dan sangat membantu. Joni mengatakan kalau Rara tak akan ikut karena ke Jakarta, tapi nyatanya jadwal di undur jadi minggu depan karena acara itu juga akan dihadiri oleh Lala yang merupakan sepupu Rara yang bersekongkol dengan Joni. Ya sebenarnya Joni dan Lala sudah tahu sejak lama tentang perasaanku pada Rara dan sudah mulai bosan dengan tingkahku yang slalu lari seperti anak kecil padahal Rara juga memiliki rasa yang sama, andai saja Joni dan Lala terlambat ber-strategi mungkin dia tak akan punya kesempatan lagi karena Rara sekarang adalah Rara dambaan para lelaki. Kini mereka berhamburan menuju halaman belakang memeluk kami secara bersamaan memberi ucapan selamat dengan sesekali menggoda, rasanya kami sedang berada dalam acara perpisahan SMA waktu itu, sungguh gak tahu harus bagaimana membalas kebaikan teman-temanku yang slalu saja mengerti bahkan lebih peka dari rasaku sendiri.

                Kini aku dan Rara resmi menjalin hubungan yang serius, bahkan dalam waktu dekat kami merencanakan sebuah pertunangan. Terlalu cepat? Kurasa tidak karena telah lama rasa kami saling tetrikat, juga kedua orang tua serta keluarga sudah setuju dan saling mengenal. Karena sejak sekolah aku maupun Rara sering berkunjung ke rumah masing-masing. Aku merasa sangat bahagia, dan tak pernah merasa menyesal menunggunya selama ini. Mungkin yang aku sesali adalah kenapa aku terlalu lama menunggu, kalau saja aku cepat bertindak waktu itu aku dan Rara sudah menikah atau malah sudah punya anak. Hari-hari ku benar-benar bermakna saat itu juga, kini aku tak mengurus toko buku ku sendiri, karena Rara dengan senang hati menawarkan membantu aku mengurusnya. Sungguh bukan hanya partner hati tapi juga partner hidup yang tepat, sekaligus calon ibu yang sempurna karena rasa kasih sayangnya yang begitu tulus.

Senin, 25 Agustus 2014

Tamparan Hidup, menyakitkan!!

Tamparan ini sungguh lebih menyakitkan daripada tamparan manapun di dunia. Bagaimana mungkin kami yang harusnya saling menjaga harus kecolongan satu bidadari??

Tak terbayang bagaimana Mentariku kan menangis disana melihat keadaan sesial ini. Amanat yang slalu di wanti-wantikan dengan sangat jelas dan detail terlanggar merenggut salah satu dari puluhan bidadarinya.

Maaf kan kami Mentari, kami lalai menjaga satu sama lain, kami lalai dengan bagaimana buasnya luar sana. Kalaupun bisa diibaratkan ini bagaikan terlempar telur se busuk-busuknya aroma.

Minggu, 10 Agustus 2014

To my mommy

Dedication to my mom (alm).

Assalamualaikum my super hero mommy.

Terima kasih yang teramat banyak untukmu bu'e, untuk sgala kehidupan yang terindah yang kau berikan selama hidup bahkan setelah kau tiada.

Kau slalu berusaha menjadikanku gadis hebat ditengah keterbatasan yang kita miliki. Kata orang?? Kau bilang jangan terlalu didengar kalau hanya cibiran yang mereka berikan, dan kau slamanya penguat.

Aku suka masa kecilku dengan sgala kasih sayang dan juga kemanjaanmu padaku. Semua keinginan menjadi model, penari atau apapun itu kau berusaha mewujudkannya dengan indah.

Aku masih ingat dengan betul, kau tak pernah lupa menyelipkan namaku dalam doa terbaikmu. Bahkan kau seringnya lupa berdoa untuk dirimu sendiri.

Maaf bu' , jika selama hidupmu aku bahkan belum bisa sekedar melengkungkan sebuah senyum untukmu. Maaf pula untuk sgala keegoisan yang slama ini aku lakukan padamu hingga kau harus bersusah payah dan bersusah hati karena keegoanku.

Kini dalam sepi aku masih saja merindukanmu, meneteskan airmata mengingat bahwa aku belum bisa memberikan apapun dalam hidupmu. Itu karena mungkin aku baru menyadari bahwa cinta orang tua jauh lebih berharga dibanding ribuan prestasi yang bisa aku dapatkan.

Love u mommy, i'm miss you so much. Slamanya kau tak akan terganti meski banyak orang yang akan memperlakukan aku selayaknya anak bagi mereka, tapi kau tetap ibu terbaik di hatiku yang di kirimkan Tuhan untukku.


Your little girl
Rita (ita)

Rabu, 06 Agustus 2014

Pertemuan kembali (lagi)

Nafasku terasa berat kurasakan, ketika ke empat sahabatku kembali menanyakan tentang Dane, ya aku pernah menyimpan rasa untuknya dan nencoba melupakan itu semua. Tapi pertemuan kali ini membuatku harus teringat kembali apalagi seolah para sahabatku menginginkan aku bisa mengakui perasaan yang belum semoat ku utarakan pada Dane kala itu.

"Aku baru aja putus, girls!" bisikku setengah teriak.
"Makanya itu, ini kesempatan. Kita gak mau kamu galau cuman gara-gara cowok brengsek macam Jack." ujar Grace yang di ikuti anggukan oleh yang lainnya.
"Aku cuman butuh waktu say, ngapain juga galau karna tuh cowok, ogah dah!" lagian kalian yakin banget sih Dane bisa terima aku??" ucapku penuh tanya

Sahabatku kini tak menjawab hanya menggerakkan bahu dan menggelengkan kepala. Akupun tak mau ambil pusing dengan permuntaan mereka tadi, dan menikmati coklat panas yang mulai dingin. Membahas yang lain mungkin jauh lebih baik untuk menghindari pertanyaan macam tadi .

Seminggu setelah acara reuni yang mempertemukan aku kembali pada Dane, aku serasa merindukannya. Banyak tanya yang menyelemuti apakah rasa itu muncul kembali?? Ah..entahlah apapun itu aku hanya ingin sebuah ketenangan setelah kejadian dua minggu lalu aku putus dengan Jack yang belakangan ku ketahui telah menjalin hubungan dengan yang lain bahkan disaat kami belum resmi putus.

Tepat pukul tujuh malam aku telah sampai di sebuah gedung pertunjukkan teater, sudah lama aku tak menonton pementasan teater, apalagi ini peme tasan dari komunitas teater Bunga dimana dulu aku dan beberapa teman komunitasku pernah menjalin hubungan baik diantara komunitas kami. Ngomong-ngomong dari tadi aku sendirian menunggu, dimana teman yang lain katanya jam tujuh kumpul di depan gedung dan ini sudah lebih dari lima belas menit.

Dari jauh kulihat beberapa temanku yang tadi mengajak janjian jam tujuh dan ngaret, namun mereka terlalu banyak. Ternyata mereka bersama para senior teater Bunga yang dulu seangkatan kami, sekalian nostalgia kalau gini. Ada Reno juga yang slalu aja berisik kalo ketemu dia, tapi seru sayang tampangnya pas-pasan tapi baik kok. Hhehehe

Kami langsung masuk dan menonton, ketika sedang asyik menonton ku rasakan ada orang yang duduk di sebelahku dan Reno namun tak kuhiraukan karena aku sedang fokus menonton pementasan. Kurasa Reno asyik berbincang dengan orang tadi yang membuat ke damaianku menonton jadi agak terganggu dan akupun menepuk kepala Reno sekenanya menyuruh dia diam.

Acara selesai dan lampu ruangan yang tadi hanya dihiasi lampu panggung mulai di hidupkan. Kutengok Reno dan orang yang tadi duduk disampingnya, dia tersenyum manis dan menyindir kelakuanku yang amat fokus menonton, jantungku benar-benar dibuatnya berdebar kencang. Orang itu ku kenal dengan pasti, ya dia Dane. Ku ingat kembali bagaimana dia bisa juga disini, ternyata dia dulu adalah teman kelas Reno dan teater ini adalah komunitas teater SMA mereka. "Ya Tuhan, Dane ganteng banget sih." gumamku dalam hati.

Kini aku dan teman-temanku sudah berada diluar gedung, beberapa dari mereka silih bergati pamit pulang. Tinggal aku dan Reno, aku masih menunggu kakakku karena tadi aku nebeng dia yang pergi kencan. Reno masih menemaniku sampai nanti aku di jemput, dia ingin mengantarku pulang tapi aku menolak karena rumah dia jauh sekali dari rumahku dan beda arah aku tak mau merepotkannya. Sejurus Reno menunjuk seseorang yang sedang menerima telfon di area parkir.

"Kenalkan sama tuh cowok?? Dapet salam tuh tadi, pas kamu nonton katanya manis banget bengongnya." ujarnya tertawa seraya sedikit menggoda.
"Ya iya kenal lah, tuh kan temenku waktu SD kemarin juga abis reuni bareng." ujarku merespon biasa saja.
"Aihh cakep, jodoh kali ya kalian tuh hampir mirip sifatnya tau gak??".Reno semakin membuatku tersipu namun ku tahan.
"Ya Tuhan, ada aja deh Ren. Sama dari mana coba? Aku cuman cewek biasa dan dia populer men, kamu sendiri kan yang dulu cerita-cerita gitu."belaku coba menepis dugaan Reno.
"Nah ini, sama persis. Yang satu pemain basket handal satu lagi aktris terbaik, ngakunya biasa aja. Samakan??" godaan Reno semakin menjadi dan aku cuman menghela nafas mendengar semuanya.

Dane mendekati kami yang sedari tadi asyik ngobrol, jantungku rasanya mau copot melihat langkahnya makin dekat dan Reno yang slalu mencibirku. Dane mendekat dan mengajakku pulang bareng karena rumah kami searah. Reno menyikutku memberi tanda untuk menerima tawaran, dan aku meng iyakan saja karena hari semakin malam dan kakakku tak juga muncul.

Saat Dane mengambil mobil, Reno menggodaku dan mengatakan good luck ketika aku hendak masuk mobil Dane dan itu membuatku ingin melemparnya ke gunung es, sumpah ngeselin banget. Dalam mobil kami tak banyak bicara hanya terdengar suara musik Tulus yang di putar oleh Dane. Setelah sekian lama terdiam dia membuka pembicaraan, ya hanya pembicaraan basa basi dan pertanyaan tentang acara kemarin. Ya suasana mulai cair dan kami bisa sedikit tertawa oleh lelucon garing Dane dan ingatan masa SD kamu, tak kusangka Dane masih mengingatnya bahkan dia ingat kalau dulu teman-teman sering menjodohkanku dengannya. Sungguh luar biasa, diluar dugaan dan membuatku tersipu malu.

"Rara." ucapnya singkat sesampai di depan halaman rumahku.
"Ya, ada apa Dane?" jawabku penasaran karena agak gugup karena kini dia menggenggam tanganku lembut.
"Hmmm..janji ya jangan marah?se enernya dah lama pengen ngomong ini tapi ga pas." ucapnya dengan agak gugup namun tetap terlihat cool. Aku hanya mengangguk tak banyak bicara.
"Kamu mau nggak jadi pacar aku?" pernyataannya sungguh membuatku bagai di sambar petir ini sungguh di luar dugaan. Aku salah tingkah tak bisa tenanh meresponnya. Cukup lama kami terdiam tetap pada pososi tangannya menggenggamku.
"Em...seriusan??" tanyaku mencoba meyakinkan diriku sendiri
"Banget, gimana?please jawab ya." pintanya padaku. 
Setelah helaan nafas panjang aku mengangguk dan tersenyum manis tanda menerimanya. Diapun mencium tanganku kemudian memelukku penuh kehangatan. Tuhan ini sungguh indah, gumamku dalam hati.

Dan sejak malam itu kami resmi jadian, sahabat-sahabatku bahagia mendengar kabar itu apalagi Reno, yang ternyata selama ini menjadi sumber informasi untuk Dane tentangku. Reno usil knapa sih gak ngomong dari dulu kalau si Dane tuh juga naksir aku, tapi gak apa-apa bagaimanapun juga dia berarti untuk hubungan kami yang saling memendam selama ini.

Ternyata cinta gak serumit itu andai saja kita dapat saling percaya dan jujur tanpa ada dinding pembatas macam apapun. Takut ditolak itu bukan alasan tepat untuk kita takut mengutarakan isi hati, karena cinta melindungi bukan menakuti.


Kamis, 03 Juli 2014

Dulu, saat itu, kini dan nanti

Hingga saatnya tiba, kini aku berjumpa kembali denganmu. Memang tak ada kisah special tentang aku dan kamu di masa yang dulu tapi enta kenapa kehadiranmu kembali seolah memberikan arti tentang akah ada kenangan indah antara kita, meski aku sendiri tak tau apakah kenangan itu bertahan selamanya atau hanya angin lewat untuk penambah cerita kehidupan. Sebenarnya aku agak heran kenapa aku dan kamu kini menjadi kita, padahal dulu tak pernah ku tahu dan tak pernah ku rasa bahwa ada cinta diantara kita. Dulu yang secara jelas meski tak nyata mengungkapkan rasanya padaku adalah teman terdekatmu sendiri, dan mungkin kau pun masih ingat tentang kisah ku dengannya, kisah masa kecil. Entahlah kusebut ini takdir hidup, ya mungkin itu lebih baik kedengarannya.
Tiba- tiba kau datang, tiba-tiba pula kau mengungkapkan rasa dalam hati. Aku ingin berfikir panjang tentang tawaranmu itu namun kau tak memberiku cukup waktu untuk itu, sampai akhirnya aku memutuskan mengatakan ya dan menjadikan ini cara belajar mencintaimu. Namun tak serta merta saat aku menerimamu lantas aku percaya padamu bahwa kau sepenuhnya serius mencintaiku. Kutunggu keseriusanmu dengan cara  kembali pulang untuk sekedar berjumpa denganku, ya saat itu aku cukup bahagia menjadi alasan kepulanganmu setelah hampir tiga tahun bahkan kau tak pernah pulang lagi ke kota ini. Meski waktu kepulanganmu hanya sebentar dan pertemuan denganku pun hanya bisa di hitung dengan lima jariku saja, namun aku rasa cukup untuk membuatmu dan membuat diriku sendiri menyatakan kemantapan masing-masing tuk melangkah lebih jauh lagi bersamaan.
Sampai akhirnya kita berjalan bersama, saling melengkapi tawa dan menghapus kesedihan. Nampak bodoh mungkin aku hanya berkomunikasi denganmu lewat pesan singkat yang itupun tak bisa setiap detik ku dapatkan, karena waktu dan macam kegiatan yang kita lalu sungguh berbeda. Aku hanya gadis desa dank au anak desa yang mencoba peruntungan di kota orang dengan penuh kerja keras. Sampai terkadang kau menghalau semua bayangan kerinduan untuk pulang bertemu dengan orang yang kau cintai. Saat bahagia itu sungguh kunikmati dan jika ini menjadi momen manis terakhir untuk ku bersamamu, ingin rasanya aku berkata pada Tuhan untuk menghentikan waktu dimana akan slalu ada senyum diantara kita.

Sayangnya kini waktu tak semanis itu, dan seolah aku terlambat berkata pada Tuhan tentang hal itu. Kau pergi begitu saja setelah malam kejadian malam itu, dan yang kulakukan hanya bisa memandangi semua sisa pesan singkat itu. Hari berlalu aku masih coba menghubungimu untuk sekedar meminta maaf, tapi mungkin maaf yang ku lontarkan sudah terlalu banyak hingga kau mulai jenuh memaafkan keegoisanku. Tepat sekali Tuhan member uji, aku kehilanganmu disaat bersamaan aku harus kehilangan sosok wanita hebat yang kumiliki, pejuang tangguh sejak aku masih dalam kandungannya. Andai saja aku bisa memutar waktu kembali, andai saja aku bisa mengubah takdirku sendiri, andai saja kini yang ku alami hanyalah mimpi. Ya, sayang seribu sayang nasi telah menjadi bubur, jalan hidup tetap harus di lalui entah bagaimana manis dan pahitnya. Kini aku di ajarkan Tuhan untuk ikhlas dan pasrah untuk tak lagi menyiakan sebuah senyuman.

Senin, 07 April 2014

SEDERHANA

Gadis cantik itu bernama Rara, dia memang bukan siapa-siapa hanya gadis kecil yang mulai tumbuh dewasa dan mulai bergelut dengan semua impiannya. Bekerja sebagai seorang penulis disebuah penerbit terkenal di kotanya meski dengan gaji yang tak seberapa namun dia menikmatinya, karena baginya menulis adalah sebagian dari jiwanya yang tak pernah bisa terpisahkan. Rara memang bukan sosok gadis sempurna namun tak berarti tak banyak pria yang naksir padanya, sejak masih duduk dibangku sekolah sudah banyak yang menaruh hati padanya, ada yang secara terang-terangan mengakui dan ada pula yang hanya menyampaikannya melalui sahabat Rara. Tapi Rara masih saja belum pernah menikmati indahnya pacaran, karena mereka semua hanya Rara jadikan sebagai teman. Sampai akhirnya dia bertemu kembali dengan Jack yang merupakan temannya sejak kecil yang kebetulan satu sekolah dengannya waktu SMA, tiga tahun kelulusan mereka tak pernah berjumpa sampai akhirnya mereka bertemu dalam sebuah event di Jakarta, sampai akhirnya mereka berpacaran meski harus menjalani hubungan jarak jauh.

Hampir satu tahun menjalin hubungan mereka memang sering tanpa komunikasi karena kesibukan masing-masing juga jarak yang memisahkan pertemuan mereka, tapi kali ini berbeda sudah seminggu lebih Rara tanpa kabar, biasanya dia yang paling protes jika Jack terlalu sibuk sampai melupakan komunikasi diantara mereka. Jack merasa khawatir sesuatu buruk terjadi pada diri Rara atau bahkan hubungan mereka, semua komunikasi yang biasa mereka gunakan semua sepi tanpa pesan dari Rara, bahkan beberapa kali Jack menelfon tapi tak juga ada respon. Jack mulai putus asa, namun dia teringat facebook Rara dimana biasanya Rara menulis semua kepenatannya tapi Jack hanya menemukan update status terakhir Rara yang itupun ditulisnya seminggu yang lalu. “Semua takdir sudah da yang menentukan. Jika pun aku berjodoh dengannya Tuhan akan mempertemukanku kembali dengannya.” Ada ribuan tanya dalam fikiran Jack membaca status Rara, apakah dia mulai bosan dengan hubungan diantara mereka atau ada orang lain yang menggantikannya disamping Rara. Jack semakin tak mengerti dengan semua ini. Tiga hari sudah Jack mencoba mencari info tentang Rara, semua teman dan sahabatnya coba Jack tanyai namun tak satupun dari mereka yang tahu bahkan mereka juga kesulitan menghubungi Rara, Jack sebenarnya ingin mencari info dari saudara dan juga kakak Rara namun Jack tak punya kontak mereka satupun. Jack semakin pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti, tentang hubungannya dengan Rara dan semua mimpi mereka bersama.

                Beberapa hari ini Jack disibukkan dengan semua kekhawatirannya tentang Rara, sampai-sampai dia tak focus dengan pekerjaannya dan juga tugas kuliahnya, diamana slalu ada Rara yang dulu slalu memberikan semangat ketika dia mulai jenuh dengan kegiatannya dan ingin pulang kembali ke kotanya bertemu sang pujaan hati. Disini Jack memang tak sendiri, dimana dia juga punya banyak teman dan sahabat yang slalu menghiburnya ketika Jack sedang murung seperti malam ini.  Teman-temannya mengajaknya untuk sekedar jalan-jalan menikmati suasana malam di kota yang tak pernah tidur ini, Jack pun hanya mengikuti keinginan teman-temannya lagi pula memang tak seharusnya dia semurung ini. Sedikit kekhawatirannya tergantikan oleh tawa para teman, meski saja slalu terbayang wajah Rara yang hingga saat ini belum juga ada kabar.

Tepat pukul 12.00 dini hari Jack dan teman-temannya pulang kembali ke kost masing-masing, sesampainya di kamar Jack memandangi foto Rara yang slalu tersimpan di galeri handphone miliknya. Dibukanya laptop miliknya, mencoba membuka facebook untuk sekedar menghibur diri seperti kata Rara bahwa facebook adalah hiburan dimana semua hal bisa dibahas dan hal yang tak penting bisa saja menjadi penting. Sepuluh menit berlalu dengan sedikit tersenyum karena membaca update status konyol milik teman-temannya sampai akhirnya dia menemukan sebuah foto milik sebuah akun yang dia kenal sebagai kakak Rara. Dalam foto tersebut nampak seorang gadis meski tak begitu jelas sedang terbaring lemah di sebuah kamar rawat yang penuh dengan selang infus dan semacamnya, ada sebuah keterangan di foto tersebut “GWS mbem, kita semua sayang kamu. Nanti kalau kamu sembuh kita main bareng kakak yang gendong kayak waktu kecil kamu mbem. Kamu bangun ya sayang.” Hati Jack seakan teriris perih, meski samar dia tahu siapa yang terbaring lemah dalam foto itu, dia juga paham betul panggilan mbem itu adalah Rara. Tak terasa air mata yang berhari-hari di tahannya akhirnya runtuh malam itu juga, banyak penyesalan yang terbesit di fikirannya. Dia yang mengakui mencintai Rara seumur hidupnya bahkan tak tau kalau sang separuh jiwanya tengah terbaring lemah, dia malah memikirkan hal negative tentang Rara yang sebenarnya tak pernah terbesit difikirannya.

Malam itu juga Jack memesan tiket pesawat pulang ke kotanya untuk secepatnya bisa sampai dan bertemu dengan Rara, semua pekerjaan dan kuliah dia abaikan karena tak ada yang lebih penting kini kecuali Rara. Duduk terpaku dalam kursi penumpang membayangkan pertemuanya dengan Rara yang bisa dihitung dengan jari jemarinya, flash back masa kecil mereka yang tak pernah terlupakan bagi Jack karena Rara adalah cinta pertamanya. Sesampainya di kotanya, Jack menghubungi sahabat Rara dan menjenguk Rara pagi setibanya Jack. Tanpa menunggu lama bersama para Sahabat Rara, Jack menuju rumah sakit tempat Rara dirawat, di depan kamar rawat hampir saja Jack tak kuat menopang berat tubuhnya bercampur kekhawatirannya terhadap Rara. Mereka disambut oleh keluarga Rara yang berkumpul di depan kamar, ya Jack sudah mengenal keluarga Rara sejak masih kecil namun tak sedekat semenjak hubungan pacaran mereka. Didalam hanya ada Ayah Rara yang memang tak akan beranjak meninggalkan puteri kecilnya meski hanya sebentar, di belainya kepala Rara yang selama ini tertutup jilbab. Jack masuk dengan gontai, berharap bahwa yang terbaring disana bukanlah Raranya yang sangat dia cintai, namun inilah kenyataan yang harus diterimanya bahwa itu benar Rara kesayangannya. Hampir jatuh air matanya namun Ayah Rara langsung mengingatkan Jack untuk tidak menangisi Rara, karena Rara pasti akan sembuh dan kanker yang merupakan perusak senyum Rara akan segera musnah. Jack tertegun dengan semangat Ayah Rara dan menyeka air mata dipucuk bola matanya.

Jack meraih tangan Rara dengan lembut, duduk disamping pembaringannya masih ditemani Ayah Rara. Bibirnya tersenyum kaku menyapa sang kekasih yang terbujur lemah, mendongengkan kisah kecil mereka, cinta diam mereka sampai kisah pacaran mereka yang tak slalu mulus seperti jalan depan rumah Rara yang slalu dibanggakannya karena tak ada lubang yang bisa menjatuhkan pengguna jalan. Masih ditemani Ayah Rara mereka membahas kelucuan Rara yang manja sebagai anak terakhir, mereka masih percaya bahwa Rara bukan sakit, Rara hanya tertidur karena memang Rara  adalah sleeping beauty bagi mereka meski infuse dan alat detak jantung terpasang mereka anggap itu adalah hiasan menemani tidur gadis kesayangan mereka, hingga mereka tak sadar meneteskan air mata yang sedari tadi pantang mereka teteskan di hadapan Rara yang tertidup lelap dalam mimpinya. Jack sudah tak tahan lagi berlama-lama diruangan itu, dia berlari keluar menuju taman dekat kamar Rara. Disana dia menangis seorang diri, menghujat segala kesibukan dan jarak diantara mereka. Menyalahkan diri sendiri bahwa harusnya dia bisa menghabiskan waktu lebih lama untuk membuat malaikat kecilnya tetap tersenyum. Lamunannya terhenti oleh sapaan Jane sahabat Rara, dia mengabarkan bahwa Rara siuman. Jack dan Jane pun berlari menuju kamar Rara, kamar Rara penuh dengan orang yang mencintainya menyambut kesadarannya dari tidur panjangnya. Rara tersenyum melihat Jack, sempat juga bercanda melihat air mata Jack mengejeknya sebagai lelaki cengeng. Jack tak mampu berkata hanya bisa tersenyum menatap malaikatnya terbangun.

Berminggu-minggu di rawat dirumah sakit akhirnya Rara diperbolehkan pulang meski dengan keadaan yang masih lemah. Dokter hanya mengatakan kalau kini yang dibutuhkan Rara hanya kasih saying dan kebahagiaan dan biarkalah umur menjadi rahasia Tuhan, kami tau apa yang dimaksud dengan perkataan sang dokter tapi kami dan juga Rara punya semangat yang tak kan tergoyahkan oleh kanker yang slama ini di derita Rara. Tiga hari kepulangan Rara dari rumah sakit Jack kembali ke kota rantaunya menyelesaikan study yang menjadi tujuan utama, sebenarnya berat bagi Jack meninggalkan Rara kembali namun Rara meyakinkan Jack bahwa semua kan baik-baik saja sampai waktunya benar-benar tiba, Jack percaya pada Rara dan berjanji bahwa dia akan lebih peduli dengan mengabari Rara setiap hari sesibuk apapun kegiatannya.

Setahun berlalu Jack kembali menemui Rara, mengabarkan dua hal penting dalam hidupnya. Pertama dia telah lulus menjadi seorang sarjana dengan nilai sangat baik dan yang ke dua dia akan meminang Rara dalam waktu dekat. Rara bahagia terharu mendengarnya, namun ada kesedihan bagaimana mungkin Rara menerima pinangan lelaki yang dicintainya dalam keadaan umur yang di vonis sudah tak lama lagi, dia takut akan meninggalkan Jack secepat itu, Jack meyakinkannya bahwa jodoh, umur dan rejeki sudah ada yang mengatur. Jack dan Rara saling berpandangan menyebar senyum kebahagiaan mereka, begitu pula kedua keluarga mereka yang menyambut baik kabar bahagia itu dan akan melangsungkan pesta pernikahan secepatnya. Kini dua tahun sudah mereka menjalani hidup sebagai sepasang suami isteri tak lagi terpisahkan jarak diantaranya, kehidupan mereka berjalan layaknya kehidupan rumah tangga yang lain bahkan mereka lebih terlihat bahagia meski terbesit bayangan akan kehilangan salah satu diantara mereka cepat ataupun lambat. Dan ternyata waktunya telah tiba, Rara sudah tak sanggup lagi melawan penyakit yang dideritanya, dan dengan keikhlasan semua keluarga termasuk Jack telah rela kalau kini harus ditinggalkan oleh Rara. Rara tertidur untuk selamanya dikelilingi oleh orang-orang yang dicintainya orang tua, kakak-kakak, saudara, sahabat dan juga separuh jiwanya yaitu Jack. Rara pergi dengan telah menyelesaikan tugasnya membahagiakan kedua orang tuanya yaitu melihat dirinya menikah meski Rara tak sempat mewujudkan mimpi kedua orang tuanya untuk menimang cucu darinya dan juga Jack.

Takdir terkadang tak slalu indah seperti apa yang diharapkan, ada kalanya kita akan terkejut dengan takdir yang sebelumnya tak terbayang akan terjadi terhadap diri kita. Bahagia itu sederhana, sesederhana kita memaknai kehidupan yang kita punya, menjalaninya dengan tanpa beban, namun terkadang terusik oleh kegelisahan yang tak beralasan. Kalian pernah merasakan jatuh cinta? Ya tak selamanya indah memang, namun tetap saja yang namanya jatuh cinta itu sulit dilupakan, sesakit apapun dan sebahagia apapun bersamanya. Jatuh cinta tak pernah memandang siapa dia, darimana dia, dan bagaimana dia, cinta hanya mengenal aku menyayanginya dan slalu akan bersamanya, terkadang semudah itu meski prakteknya tak lebih gampang.

                

Minggu, 09 Maret 2014

untukmu

Jarak kita bukan hanya masalah tempat tapi juga waktu yang terkadang membuatku gelisah menunggu setiap detik kabar yang akan kau berikan. Aku percaya dan sangat percaya dengan rasa yang kau berikan padaku, rasa yang begitu tulus dan aku yakin kau setia, tapi maaf jika aku masih saja merasa takut. Mungkin aku terlalu banyak merasa kehilangan seperti yang dulu pernah ku alami, tapi aku tentunya sadar bahwa hidup yang kujalani itu menuju kedepan bukan lagi kebelakang.

Kamu tahu aku hanyalah wanita biasa, sama seperti yang lainnya. Yang spesial dariku karena aku dicintai oleh dirimu yang juga kucintai, aku tidak sedang merayumu namun itulah yang terjadi dan kuharap akan terus kurasakan. Bersamamu selalu kuharapkan sampai akhir cerita hidupku dan juga hidupmu, bisa disebut cerita hidup kita yang kau bilang akan menjadi sebuah dongeng menarik bagi anak cucu kita nantinya.

Boleh aku meminta padamu?? bukan, aku bukan meminta apapun berupa harta. Aku hanya ingin meminta jangan pernah pergi dariku meski hanya selangkah ketika mulai kini kau sudah berhasil memiliki semua hatiku, hanya itu bisakah?? karena yang kutakutkan bukanlah miskin, tapi kehilangan orang-orang yang kucintai termasuk dirimu.

If you believe me, me always believe you. Apapun dan kapanpun asal kau masih merekatkan namaku di hatimu aku percaya. :)